MENU TUTUP

Kisah Muadz Ditegur Rasulullah Karena Menuduh Orang Lain Munafik

Jumat, 21 September 2018 | 22:46:42 WIB
Kisah Muadz Ditegur Rasulullah Karena Menuduh Orang Lain Munafik
Madaniy.Com - Pada masa lalu, Sayyidina Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu pernah mendapat teguran keras dari Rasulullah sholla Allahu alayhi wa sallam, karena lisannya ringan menuduh seorang muslim, munafik. Rasulullah menegurnya dengan kalimat:
 
Apakah kamu suka menjadi Itukang fitnah?
 
Rasulullah marah karena Sayyidina Muaz tidak punya hak untuk memberi label apakah seseorang pantas disebut sebagai munafik.
 
Tampaknya, belajar dari pengalaman Sayyidina Muaz, Sayyidina Ali bin Abi Thalib tidak mau menyebut para penentangnya, khususnya dari kalangan Khawarij sebagai kaum munafik. Ketika beliau ditanya oleh para pengikut setianya, tentang orang-orang Khawarij:
 
Apakah mereka itu orang-orang munafik?
 
Sayyidina Ali menjawab:
 
“Sungguh orang-orang munafik tidak mengingat Allah kecuali sangat sedikit.”
 
Sayyidina Ali tahu bahwa orang-orang Khawarij itu masih melaksanakan shalat berjamaah dan masih mau membaca dan mendengarkan Al-Qur’an. Karena keadaan itu, tidak pantas mereka disebut sebagai munafik.
 
Kini, karena perbedaan politik yang jelas dasarnya bukan persoalan teologis (ketuhanan), seseorang dengan ringan melempar tuduhan munafik terhadap sesama muslim. Padahal, tanpa harus diberi tahu, orang-orang yang dituduh munafik itu selalu melaksanakan sholat berjamaah dan mau mendengarkan Al-Qur’an.
 
Itu pun masih mereka bantah. Tapi, itu khan kelihatannya? Dalam hatinya kita khan gak tahu!
 
Izinkan saya menjawab, bahwa persoalan hati hanya Allah yang tahu. Ini dasarnya:
 
“Mereka-mereka itu adalah orang-orang yang hanya Allah yang mengetahui apa yang ada di hati mereka…”[Surat An-Nisa’ 63]
 
Rasulullah bersabda:
 
“Sungguh Allah tidak melihat kepada rupa dan bentuk tubuh kalian. Tapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.”
 
Para ulama mengatakan:
 
“Kita hanya menghukumi hal-hal yang tampak dan Allah menguasai yang tidak tampak.”
 
Politik adalah proses. Menang untuk Indonesia, kalah tetap mendukung Indonesia.
 
Jangan paksa kami menjadi pendukung siapapun, karena tugas kami mengajar bukan berkampanye.
 
Sumber: Islami.co
Berita Terkini +

Di Riau, DL Sitorus Pernah Lahirkan Wartawan Hebat

Seratus Persen Penduduk Mauritania Beragama Islam

Lima Pasti Cara Cerdas Memilih Travel Umrah

Penjelasan Menteri Rudiantara ORARI Masih Dibutuhkan

Komunitas LIBURUN Pekanbaru Lintasi Hutan Wisata Lanud Rsn

Deklarasi Gerakan Literasi “Sumatera Barat Membaca”

Perilaku ASN Berpotensi Hancurkan Negara

MBC Bukan Penyelenggara Riau Bike Week 2017 Lagi

Menjaga Akidah "Anak-anak Kelapa Sawit"

Apa itu netiquette ber-medsos?

TULIS KOMENTAR +
TERPOPULER +
1

Terobosan SALUD Riau, Bikin Kemenhub RI Bergairah

2

56 Tahun Sudah, Perumus Naskah Sumpah Pemuda Itu Tinggalkan Kita

3

Siap Menyusul Riau, Relawan SALUD Kepri Segera Dibentuk

4

Mengambil Pelajaran Dari Perang Uhud

5

Tiga Prajurit TNI AU Berprestasi Terima Penghargaan dari Danlanud Rsn

6

Apa Sebab Hati Seseorang Susah Menerima Kebenaran?

7

Ingin Selfie Depan Pesawat Tempur? Kunjungi Pameran Alutsista di Lanud Rsn!

8

Mencela Pemimpin, Ciri Khas Kelompok Khawarij

9

29 September, Kirab Bendera Akan Singgah di Pekanbaru Selama Dua Jam

10

Kisah Muadz Ditegur Rasulullah Karena Menuduh Orang Lain Munafik