Terancam Dikriminalisasi AMB Tolak Kehadiran RRL

Senin, 30 Januari 2017 - 19:18:54 WIB
Terancam Dikriminalisasi AMB Tolak Kehadiran RRL

Pekanbaru, Madaniy.Com - “Kehadiran PT RRL  mempengaruhi psikologi masyarakat, kami menjadi tidak tenang saat berkebun, karena kebunlah satu-satunya sumber penghidupan kami,”kata Tarmizi, 45 tahun warga Desa Bantan Timur yang lahir dan besar di desanya.

Sekira lima ribu warga dari 19 Desa di Kecamatan Bantan dan Kecamatan Bengkalis menolak kehadiran PT RRL karena ruang hidup masyarakat berupa pemukiman, rumah, perkebunan kelapa, karet, pinang, sagu dan sawit yang menjadi mata pencaharian mereka masuk dalam konsesi PT RRL.

Menurut Tarmizi, ia baru tahu PT RRL beroperasi di lapangan sejak 2015 saat diundang oleh Dinas Kehutanan Bengkalis terkait sosialisasi izin PT RRL.

“Saya terkejut, ternyata 18 tahun PT RRL sudah punya izin. Masyarakat marah dan menolak kehadiran PT RRL,” kata Tarmizi. Sejak saat itu, Tarmizi dan lima ribu warga melakukan protes berupa unjuk rasa hingga mendatangi DPRD Bengkalis, Bupati Bengkalis dan melapor kepada KLHK agar mencabut izin PT RRL.

Menurut temuan Jikalahari, ruang hidup masyarakat sudah ada sebelum Indonesia merdeka atau jauh sebelum PT RLL beroperasi pada 1998.

“Masyarakat juga terancam dikriminalisasi karena desa mereka berada dalam kawasan Hutan Produksi menurut draft RTRWP Riau 2015 – 2030 yang akan disahkan DPRD Provinsi Riau,” kata Woro Supartinah, Koordinator Jikalahari.

Draft RTRWP Riau sangat tidak memperhatikan besarnya konflik antara masyarakat dengan PT RRL. Bahkan, pemukiman masyarakat yang berada dalam kawasan hutan tidak masuk dalam usulan Holding Zone dalam Draft RTRWP Riau.

“Harusnya areal PT RRL, izinnya dicabut dan dimasukkan dalam Peta Indikatif Alokasi Perhutanan Sosial (PIAPS) dan pemukiman dikeluarkan dari kawasan hutan,” tambah Woro.

“Bukan saja merampas hutan tanah masyarakat, PT RRL juga melakukan tindak pidana dan punya rekam jejak buruk,” kata Woro Supartinah.

Jikalahari menemukan kebakaran gambut dan hutan di dalam konsesi PT RRL pada 2015, lalu pada 10 April 2016 jikalahari kembali menemukan areal PT RRL kembali terbakar mencapai lebih dari 800 hektar.

Yuki Chandra


TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Banyak Calon Penumpang Tak Bisa Penuhi Syarat Protokol Kesehatan

Lion Air Group Hentikan Operasional Mulai 5 Juni 2020

Selasa, 02 Juni 2020 - 20:35:59 WIB

Lion Air Group akan melakukan penghentian sementara operasional penerbangan penumpang berjadwal domestik dan internasional, yang dijadwalkan mulai 5 Juni 2020 sampai dengan pemberitahuan lebih lanjut.

Kementerian BUMN Revitalisasi 76 Bandara Kelas IV

Selasa, 24 Januari 2017 - 15:05:13 WIB

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) segera merevitalisasi sebanyak 76 bandar udara berukuran landasan pacu (run way) 800-1.000 meter hingga lima tahun ke depan, dengan melibatkan sejumlah peru

Akhirnya Jaringan Gas Bawah Tanah Duri-Dumai Mulai Dibangun

Rabu, 01 Februari 2017 - 09:08:47 WIB

Wali Kota Dumai Zulkifli As mengatakan, proyek infrastruktur pipa jaringan gas industri bawah tanah Duri-Dumai mulai dikerjakan.

Aturan Kantong Plastik Berbayar Segera Terbit

Ahad, 05 Februari 2017 - 17:50:45 WIB

Masyarakat diajak untuk mengurangi, memanfaatkan kembali, dan mendaur ulang sampah di sekitar untuk mewujudkan Indonesia Bebas Sampah tahun 2020.

Guru SMK Negeri di Riau ‘Belajar’ Teknologi Pembibitan di RAPP

Selasa, 25 April 2017 - 20:26:56 WIB

Tertarik dengan penerapan teknologi pembibitan tanaman, sejumlah guru-guru dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) se-Riau berkunjung ke Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Selasa (25/4/2017), Pangkalan

Industri Kehutanan Jangan Cari Alasan Lagi

Rabu, 26 April 2017 - 19:22:17 WIB

EoF menangkap adanya indikasi keberatan dari industri kehutanan dan kelapa sawit untuk segera mematuhi Peraturan terkait pengelolaan dan perlindungan gambut.