Para Srikandi Riau Yang Terabaikan
Ilustrasi
Madaniy.Com - Komisi Pemilihan Umum Provinsi Riau (KPU Riau) telah menetapkan empat pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Riau pada Pilgubri 2018.
Dari delapan figur calon tersebut, masing-masing mewakili unsur kepala daerah, politisi, alim dan TNI. Yang notabene semua adalah laki-laki.
Tak bisa dipungkiri, jika delapan orang figur yang menjadi pilihan partai politik ini, memang sudah teruji kelayakan menurut partai pengusungnya.
Dalam konteks ini, masyarakat Riau harus bisa berlapang dada, karena tahun 2018 ini kita semua memilih calon pemimpin yang disodorkan partai politik.
Lalu, kemana para perempuan Riau yang selama ini banyak berkiprah dan bagi sebagian kalangan layak menjadi pendamping para calon Gubernur.
Di atas kertas kita punya nama-nama seperti Intsiawati Ayus - anggota DPD RI asal Riau dan Septina Primawati - Ketua DPRD Riau.

Intsiawati Ayus, Srikandi Riau yang sangat dekat dengan masyarakat
Juga, kita masih punya segudang nama Srikandi yang mempunyai jam terbang yang cukup tinggi dan cukup kompeten untuk menjadi pendamping.
Politisi Iwa Sirwani Bibra, Suryati, Eva Yuliana, Rosti ully Purba, Rita Zahara, birokrat seperti Yulwiriati Moesa, Indrawati Nasution.
Juga dari kalangan pemerhati dan pekerja sosial yang banyak berkiprah di sejumlah organisasi perempuan.
Dari semua nama tersebut, nama Intsiawati Ayus termasuk salah satu Srikandi Riau yang sangat dikenal masyarakat. Sosok ini begitu 'lasak' turun ke masyarakat.
352.603 suara yang diraih pada Pileg 2014 lalu merupakan jaminan, betapa putri Azman Yunus ini begitu dekat dengan masyarakat.
Tiga periode menjadi senator di Gedung Senayan, membuatnya begitu dikenal di kalangan petinggi negeri ini. Layak disebut pribadinya telah menasional.
Sementara itu, Septina Primawati yang saat ini menjabat Ketua DPRD Provinsi Riau, adalah peraih suara terbesar untuk Dapil Inhil pada Pileg 2014 lalu.

Septina Primawati, Srikandi Riau yang sangat peduli dengan masyarakat.
Istri mantan Gubernur Rusli Zainal ini, memiliki basis suara yang cukup kuat di beberapa wilayah di Riau.
Kedua Srikandi ini, sesungguhnya adalah pasangan yang ideal bagi para kandidat Gubernur untuk meraup suara, terutama pemilih perempuan yang mencapai 57 persen dari total pemilih.
Di era reformasi ini, gender bukan lagi menjadi masalah yang substansial, seperti di Jawa Timur kemunculan Khofifah Indar Parawangsa menunjukkan kiprah perempuan di Indonesia sangat diapresiasi.
Bagaimana dengan di Riau? Sejauh ini, penulis masih belum bisa memahami pokok fikiran para petinggi partai politik nasional terhadap perempuan Riau.
Alasan mengabaikan potensi para Srikandi ini jelas sebuah langkah yang salah di mata penulis, jika berfikir untuk mengejar perolehan suara.
Namun, jika partai politik masih berbicara komitmen dan komitmen, jelas sekali penulis tak bisa berujar lagi. Karena itu memang kewenangan mereka.
Ketiadaan warna baru pada Pilgubri 2018, memang tak bisa juga disesali, karena kewenangan dan keputusan itu memang bukan di tangan orang Riau.
Dengan kedaulatan yang tak dimiliki secara nyata inilah, sudah saatnya kita bersama komit untuk menjaga berlangsungnya Pilgubri 2015 dengan aman dan damai.
Pekanbaru, 15 Februari 2018
Yuki Chandra




