Perlu Penerapan Konsep JOSS Dalam Pembinaan Usia Muda, Kata Bung Kusnaeni

Senin, 28 Oktober 2019 - 18:45:48 WIB
Perlu Penerapan Konsep JOSS Dalam Pembinaan Usia Muda, Kata Bung Kusnaeni Mohammad Kusnaeni Calon Wakil Ketua Umum PSSI
Madaniy.Com – Di tengah terpuruknya prestasi tim nasional (timnas) senior, harapan muncul dari generasi di bawahnya. Sejumlah sukses diraih tim usia muda Indonesia meski sistem pembinaan sepak bola Indonesia dinilai pengamat Mohamad Kusnaeni masih perlu dibenahi dengan konsep “JOSS”.
 
Hal itu diungkapkan Kusnaeni menyambut keberhasilan tim pelajar U-15 binaan Kemenpora yang menjadi juara di ajang International Football Championship (IFC) 2019 di Bali, Jumat (25/10/2019). Sebelum itu, sejumlah tim usia muda Indonesia juga mencatat sukses di turnamen internasional, seperti Gothia Cup China, Borneo Cup, Singa Cup, dan sebagainya.
 
“Di usia muda, potensi pemain kita memang sangat menjanjikan,” kata Kusnaeni, kandidat Wakil Ketua Umum dan Anggota Exco dalam Kongres PSSI, 2 November 2019 mendatang. “Tapi kita perlu benahi lagi  dengan konsep JOSS agar mereka tidak hanya sukses di usia muda tapi terus berlanjut hingga ke jenjang senior.”
 
Konsep JOSS yang dimaksud Kusnaeni terdiri dari empat fokus yang mendapat penekanan khusus. Yang pertama, huruf “J”, mengandung makna jenjang pembinaannya harus lengkap dan tertata dengan baik.
 
 
“Kita perlu memastikan bahwa pembinaan usia muda ini memiliki jenjang yang utuh dan tidak terputus sejak usia dinia, usia muda, hingga senior,” kata pria yang juga dikenal sebagai komentator sepak bola nasional itu. “Tak boleh ada kelompok usia yang lowong alias tidak memiliki kompetisi karena itu akan mempengaruhi minat dan perkembangan kemampuan anak-anak kita.”
 
Saat ini, kata Kusnaeni, hampir semua kelompok umur sejak U-9 hingga U-18 memang sudah ada kompetisinya. “Namun sebarannya belum merata dan terlalu terpusat di Jawa,” katanya. “Menjadi tugas bidang pembinaan usia muda PSSI untuk menggairahkan kompetisi kelompok umur di luar Jawa karena potensi pemain cukup banyak di sana.”
 
Fokus kedua, “O”, bermakna orientasi pembinaan usia muda harus mengutamakan karier pemain. “Ada salah kaprah. Banyak orang tua dan pembina yang tidak sabaran dan terlalu memaksakan anak-anak agar cepat menuai prestasi di usia dini,” Kusnaeni mengungkapkan. “Padahal, pembinaan usia dini dan usia muda itu sebuah proses mengasah potensi pemain untuk mencapai tujuan sebenarnya: jadi pemain berkualitas saat menginjak usia senior nanti.”
 
Akibat orientasi pembinaan yang salah, banyak pemain usia muda terlalu cepat matang namun kemudian layu dan jenuh di usia senior. “Ini harus diluruskan,” kata Kusnaeni yang juga operator kompetisi Liga Berjenjang U-16 Piala Menpora. “Ke depan, event usia muda juga harus menjauhkan diri dari kebiasaan menawarkan iming-iming hadiah uang sebagai daya tarik. Ini kurang mendidik, lebih baik diapresiasi dengan bentuk lain.”
 
Fokus ketiga, “S” yang berarti sinergi semua unsur. “Saya selalu mengatakan bahwa pembinaan usia muda itu berat di ongkos. PSSI tidak mungkin melakukannya sendirian. Jadi, harus dikeroyok bersama Pemerintah, swasta, komunitas sepak bola, masyarakat, keluarga, dan lain-lain,” ia menjabarkan.
 
Kusnaeni juga menyarankan agar PSSI berfokus pada kompetisi usia muda yang mendekati usia senior. Sementara usia muda di bawahnya, termasuk usia dini, digarap stakeholders yang lain. “Di kelompok usia bawah ini, PSSI fokus sosialisasi Filanesia, memperbanyak pelatih muda berlisensi, dan aktif menggandeng Pemerintah Pusat maupun Daerah untuk pengembangan sarana bermain bola yang layak. Sekarang ini, masih sangat terbatas lapangan latihan untuk anak-anak kita.”
 
Fokus paling akhir, “S” yang kedua, bermakna stop pencurian umur. “Ini permasalahan klasik yang mungkin tak akan pernah selesai. Tapi kita harus tekun dan terus berupaya mengatasi,” kata Kusnaeni yang berharap dipercaya mengurusi pembinaan usia muda jika terpilih jadi pengurus PSSI.
 
Menurut dia, aksi pencurian umur dalam pembinaan usia muda tidak hanya berdampak terhadap mutu kompetisi usia muda. “Lebih parah lagi, ini merusak mental pemain itu sendiri. Sebab, sejak kecil, ia sudah diajari sesuatu yang salah dan itu akan terbawa terus sampai ia dewasa,” katanya, mengingatkan.***

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

Diikuti 68 Pasangan, Turnamen Tenis Meja Wartawan Digelar

Rabu, 31 Januari 2018 - 15:36:50 WIB

Dalam rangka menyemarakkan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2018, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Riau akan menyelenggarakan Turnamen Tenis Meja.

Tugas Pelatih Mengeksplorasi Kemampuan Pemainnya Pada Kejurda 2019

Selasa, 29 Oktober 2019 - 19:39:14 WIB

"Pemain yang ingin kita jaring adalah pemain yang terbaik dari segala aspek penilaian, jadi tidak ditentukan oleh predikat tim juara atau tidak. Pelatih jangan coba-coba bebani pemain dengan kata 'waj

Kondisi Bangunan GOR Gelanggang Remaja Kian Parah

Renovasi Mendesak, Dispora Riau Anggarkan Rp 1,6M

Ahad, 22 April 2018 - 18:13:34 WIB

"Kita sudah anggarkan Rp1,6 miliar untuk renovasi, dan lelangnya baru saja selesai, tahun ini sudah harus tuntas," kata kadispora Riau H. Doni Aprialdi kepada Madaniy.

Liga Berjenjang U-16 Piala Menpora 2019

Mohon Doa Restu, Minggu Tiga Naga FA Bertolak Menuju Seri Nasional

Jumat, 30 Agustus 2019 - 08:05:35 WIB

Memboyong 18 pemain, Tiga Naga Football Academy bertolak menuju Seri Nasional Liga Berjenjang U-16 Piala Menpora 2019, yang akan digelar di Tangerang, Banten pada 1 September 2019.

Alif si Anak Riau Bangga Persembahkan Kado bagi HUT Riau dan Kemerdekaan

Sabtu, 17 Agustus 2019 - 19:30:08 WIB

Bercampur aduk perasaan anak asal Duri, Mandau Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau ini, menjadi bagian dari Tim Pelajar U-16 Indonesia yang barus saja mempersembahkan Kado bagi tanah airnya.

Enam Lapangan Disiapkan Gelar Seri Nasional LBU-16 Piala Menpora 2019

Jumat, 30 Agustus 2019 - 13:23:43 WIB

Panitia Pelaksana Nasional telah mempersiapkan enam lapangan untuk menggelar Seri Nasional Liga Berjenjang u-16 (LBU-16) Piala Menpora 2019.